Apa itu Teori kepribadian

Teori kepribadian adalah sekumpulan konstruksi akademis yang diangkat dalam psikologi untuk menjelaskan variasi perilaku antara beberapa individu dan orang lain.

Dalam Psikologi, kepribadian dipahami sebagai sekumpulan karakteristik subjektif yang membuat individu unik dan menentukan perilakunya dalam menghadapi keadaan vitalnya.

Pelopor teori kepribadian adalah Gordon Allport, seorang psikolog Amerika yang pada tahun 1936 menerbitkan buku pertama tentang subjek ini, dan di mana dia menyarankan dua cara untuk mempelajari kepribadian:

  • Psikologi nomothetik: mempelajari perilaku universal.
  • Psikologi ideografik: mempelajari ciri-ciri psikologis yang membedakan orang.

Sejak itu, studi tentang kepribadian telah dimunculkan dari berbagai bidang: genetik, sosial, lingkungan, dll.

Dalam pengertian ini, ada teori kepribadian yang, pada gilirannya, dapat memiliki banyak varian, sesuai dengan perubahan atau pembaruan yang disarankan oleh penulis atau studi baru.

Teori psikoanalitik Freud

Teori psikoanalitik diciptakan oleh psikolog Wina Sigmund Freud pada awal abad ke-20 dan pada dasarnya mengemukakan interaksi dari tiga bagian kepribadian:

  • Itu: itu adalah bagian dari kepribadian yang mencari kepuasan langsung.
  • Diri: itu adalah bagian yang mencoba memenuhi tuntutan diri dengan cara yang realistis.
  • Super-ego: mencakup aspek moral dan sosial, dipengaruhi pada gilirannya oleh pola orang tua.

Demikian pula, Freud mengklaim bahwa tahap anak usia dini sangat penting untuk pengembangan kepribadian orang dewasa, dan yang terakhir termasuk 5 fase perkembangan psikoseksual:

  • Tahap oral: diekspresikan dalam 18 bulan pertama kehidupan dan bayi mencoba menjelajahi dunia melalui mulut.
  • Tahap anal: berlangsung hingga 3 tahun dan merupakan fase di mana anak mengontrol sfingternya.
  • Tahap falus: berlangsung hingga 6 tahun dan perbedaan seksual mulai dieksplorasi.
  • Tahap latensi: berlangsung hingga masa remaja dan ditandai dengan perkembangan rasa kesopanan.
  • Tahap genital: mengacu pada perubahan fisik dan psikologis remaja yang berakhir dengan masa dewasa.

Psikolog dan psikoanalis Jerman Erich Fromm juga menambahkan penilaiannya sendiri untuk menciptakan teori psikoanalisis humanistik. Dalam pengertian ini, Fromm menjauhkan diri dari postulat Freud tentang libido dan mengabdikan dirinya untuk mempelajari motivasi transendental manusia, seperti kebebasan dan cinta.

Bagi Fromm, tujuan psikoanalis harus membantu individu untuk mengenal dirinya sendiri dan membimbingnya untuk menemukan kebebasan pribadinya.

Teori psikoanalitik Jung

Salah satu murid Freud yang paling terkemuka dan teori psikoanalitiknya adalah Carl Jung. Namun, Jung memberikan kontribusinya sendiri pada psikoanalisis dengan mengangkat konsep ketidaksadaran kolektif. Menurut peneliti, semua individu berbagi serangkaian struktur mental yang sama dan struktur ini disimpan dalam mimpi kita.

Selain itu, Jung mengangkat profil kepribadian berdasarkan kombinasi dua kategori utama (introversi dan ekstraversi) dan empat fungsi (sensasi, pikiran, intuisi, perasaan). Hasilnya adalah delapan tipe kepribadian.

Berpikir-ekstrovert

Mereka membuat konstruksi mereka sendiri dari pengalaman mereka dengan dunia luar dan penjelasan yang mereka dapatkan dari interaksi mereka dengan orang lain.

Intuisi-ekstrovert

Mereka memiliki keterampilan kepemimpinan alami karena mereka memiliki kepercayaan diri yang dalam dan apa yang dapat mereka kontribusikan kepada dunia.

Sentimental-ekstrovert

Mereka adalah orang-orang yang memiliki ketrampilan tinggi untuk bersosialisasi. Pendekatannya terhadap realitas lebih emosional daripada rasional.

Merasa ekstrovert

Mereka adalah orang-orang yang suka berpetualang, hubungan mereka dengan dunia melalui pengalaman baru. Mereka adalah penjelajah tempat dan ide secara alami.

Berpikir introvert

Mereka dicirikan oleh pengembangan kesadaran yang mendalam tentang diri mereka sendiri. Mereka cenderung merefleksikan diri dan sebagai konsekuensinya memiliki fasilitas untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan mereka.

Intuisi-introvert

Mereka adalah orang-orang yang cenderung mementingkan diri sendiri dan bersifat melamun dan fantasi. Karena itu, mereka sulit menyesuaikan diri dengan dunia nyata.

Sentimental-introvert

Meskipun mereka adalah orang yang emosional, sikap introversi menghalangi mereka untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan, yang dapat menyebabkan kesulitan tertentu untuk mengungkapkan kasih sayang.

Perasaan introvert

Mereka adalah orang-orang yang mengalami dunia dari rangsangan yang mereka rasakan darinya. Namun, wawasan dan penemuan mereka adalah bagian dari dunia batin mereka, karena mereka tidak sering berbagi penemuan mereka dengan orang lain.

Teori perilaku Pavlov dan Skinner

Behaviorisme adalah teori kepribadian yang dibuat oleh Ivan Pavlov dan Frederick Skinner, berdasarkan gagasan bahwa rangsangan eksternal mempengaruhi pembentukan dan penguatan kepribadian.

Pavlov dan Skinner menggunakan metode ilmiah untuk menjelaskan bagaimana interaksi organisme dengan lingkungannya menghasilkan “penghargaan” atas perilakunya. Penguatan positif ini memfasilitasi pengulangan respons terhadap stimulus.

Proses ini memiliki tiga elemen penting:

  • Stimulus: sinyal dari lingkungan yang menimbulkan respon (bayi menangis karena ditinggal sendirian).
  • Jawaban: itu adalah tindakan yang dipicu oleh rangsangan (ibu kembali dan membawanya dalam pelukannya).
  • Konsekuensi: ini adalah hubungan antara rangsangan dan respons (bayi belajar bahwa jika ibunya meninggalkannya sendirian, dia harus menangis agar dia kembali).

Belakangan, behaviorisme akan mengembangkan dua aspek: pengkondisian klasik (dipertahankan oleh Pavlov) yang menyatakan, antara lain, bahwa respons terhadap suatu stimulus selalu tidak disengaja.

Untuk bagiannya, Skinner akan menjadi pencipta teori pengkondisian operan, yang menunjukkan bahwa respons terhadap stimulus bersifat sukarela, setidaknya sebagian besar waktu.

Teori kognitif Bandura

Albert Bandura mengembangkan teori kepribadian berdasarkan keyakinan atau harapan yang dimiliki seseorang tentang dunia di sekitarnya. Keyakinan ini disebut kognisi, itulah sebabnya teorinya disebut teori kognitif.

Selain itu, Bandura berpendapat bahwa proses kognitif memainkan peran fundamental dalam kepribadian. Oleh karena itu, pemikiran, ingatan, emosi, dan penilaian nilai juga mempengaruhi perilaku masyarakat.

Teori Humanis Carl Rogers

Carl Rogers mengusulkan pengembangan kepribadian sebagai produk pilihan individu, berdasarkan kehendak bebasnya dan visi subjektifnya tentang dunia. Konstruksi ini dikenal sebagai teori kepribadian humanis.

Tidak seperti teori psikoanalitik, yang didasarkan pada patologi individu, teori humanis berfokus pada studi tentang kebutuhan manusia yang seharusnya untuk mencapai tujuan yang bermakna.

Dalam pengertian ini, bagi psikolog humanistik ada empat dimensi kepribadian, yang diekspresikan ke tingkat yang lebih besar atau lebih kecil pada setiap individu:

  • Selera humor yang bulat: ini adalah dimensi orang yang sangat ramah, transparan, dan politis.
  • Reality and problem centered: ini adalah dimensi yang diekspresikan dalam diri orang-orang yang berfokus pada konflik di lingkungannya.
  • Kesadaran: itu adalah dimensi yang dimanifestasikan pada orang-orang yang menjalani peristiwa kehidupan secara intens dan transendental.
  • Penerimaan: ini adalah dimensi yang diekspresikan pada orang yang mengalir secara alami dengan peristiwa kehidupan.

Teori Ideografik Allport

Psikolog Amerika, Gordon Allport, mengangkat keberadaan struktur psikologis yang disebut ciri. Ciri-ciri ini bisa menjadi pusat atau sekunder dan fungsinya adalah untuk menuangkan rangsangan sedemikian rupa sehingga mereka dapat berasimilasi dengan cara yang sama dalam situasi yang berbeda.

Sistem respons ini membuat individu lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan dan memiliki pengaruh penting pada proses persepsi diri dan harga diri orang.

Di sisi lain, bagi Allport semua individu berorientasi pada pemenuhan tujuan vital, oleh karena itu, mereka adalah makhluk aktif dengan partisipasi penuh dalam proses pengembangan pribadi mereka. Semua pendekatannya dibingkai dalam teori ideografiknya tentang kepribadian.

Teori Kelly tentang konstruksi pribadi

Ia juga dikenal sebagai teori konstruksi pribadi, dan meskipun memiliki pengaruh kognitif, ia dianggap lebih sebagai kontribusi yang lebih selaras dengan dalil teori konstruktivis.

Teori kepribadian yang dikembangkan oleh psikolog George Kelly ini, berawal dari asumsi bahwa orang memahami dunia dari konsep dikotomis, seperti cinta-benci, suka-sedih, perang damai, dll.

Dalam pengertian ini, kepribadian seseorang dapat ditentukan dari serangkaian kualifikasi. Namun, yang menarik adalah makna yang diberikan orang tersebut ke kualifikasi ini, karena ini ditentukan oleh keyakinan dan pengalaman mereka, yaitu, oleh konstruksi pribadi mereka.

Model PEN Eysenck

Psikolog Amerika Hans Eysenck mengusulkan model PEN, yang didasarkan pada keberadaan tiga faktor penting yang menentukan kepribadian seseorang: psikotisme, ekstraversi, dan neurotisme.

Model Eysenck PEN muncul setelah mengevaluasi lebih dari 700 tentara yang berpartisipasi dalam Perang Dunia II. Dari penelitian ini diperoleh serangkaian data yang mengungkap adanya tiga faktor umum yang berkaitan dengan aspek biologis, seperti yang dijelaskan di bawah ini.

Psikotisme

Ini adalah faktor karakteristik orang antisosial, dengan sedikit rasa empati dan rentan terhadap perilaku kriminal atau menderita gangguan jiwa. Bagi Eysenck, psikotikisme terkait dengan neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin.

Ekstraversi

Keterbukaan terkait dengan vitalitas, kemampuan bersosialisasi dan optimisme, sehingga orang dengan sifat yang berlawanan (pasif, mudah bersosialisasi dan pesimisme) akan dianggap introvert. Bagi Eysenck, dualitas ini dikaitkan dengan tingkat eksitasi kortikal.

Neuroticism

Faktor ini dikaitkan dengan kecemasan, reaksi emosional yang berlebihan, dan kecenderungan mudah tersinggung. Ini terkait, menurut model PEN Eysenck, dengan tingkat eksitasi sistem limbik. Semakin rendah ambang aktivasi sistem ini, semakin besar kecenderungan neurotisme.

Sebaliknya, orang dengan ambang aktivasi sistem limbik yang lebih tinggi memiliki kendali emosional yang lebih besar dan respons mereka terhadap situasi yang berbeda jauh lebih seimbang.

Teori kepribadian berdasarkan Darwinisme

Teori ini menjelaskan perkembangan kepribadian berdasarkan studi Darwin tentang asal usul spesies dan evolusi selanjutnya.

Menurut pendekatan ini, kepribadian adalah hasil dari proses seleksi alam. Ini memerlukan ekspresi sifat yang akan membantu subjek bertahan dalam lingkungan tertentu, seperti solidaritas, kemampuan bersosialisasi dan kepemimpinan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *